Minggu, 25 Desember 2011

pahlawan sahur dari desa

Suasana desa di salah satu kaki gunung yang begitu elok dengan berbagai keindahan hijau sawah yang terbentang luas, riak air di sungai serta kicau burung pipit memanjakan penduduk sekitar untuk hidup bersatu dengan alam. Alam sekitar merupakan bagian dari hidup mereka. Tanpa-nya penduduk tidak bisa melangsungkan kehidupan mereka. bersama-bersama,gotong royong serta hidup rukun nan damai mereka ciptakan selaras dan sejalan dengan keyakinan mereka. Mulai dari pembangunan surau, ngaji bersama(ta’lim), sampai bersolidaritas kepada yang lain mereka lakukan untuk menciptakan suasana islami.

Terciptanya suasana tersebut terus secara continue mereka lestarikan. Hingga suatu ketika Tatkala “Edher” suara bedhug ashar dengan ritme khas menggema pertanda akan datang bulan suci penuh barokah, bulan ramadhan. Warga semua menyambut dengan gembira sebagian membuat apem makanan khas orang kampung untuk diberikan ke tetangga. Suasana berbeda tampak tidak seperti biasa, banyak anak kecil menyambutnya dengan mempersiapkan peralatan “tongtek”(acara membangunkan orang sahur) seperti membuat kentongan, mencari besi, dan meminjam drum. Inilah persiapan mereka menjelang datangnya bulan puasa, termasuk si mamat anak sekolah dasar desa yang ikut sibuk mondar mandir mencari pinjaman drum ke tetangga sekitar. Mereka semua membuatnya tanpa bantuan orang tua karena sebagian besar anak kampung tersebut kreatif dapat menyelesaikannya sendiri. Dalam sekitar 2jam mereka menyelesaikannya. Mereka melangkahkan kaki untuk pulang kerumah masing-masing, termasuk Mamat.

Sesampai nya di rumah,”assalamualaikum”.

“Waalaikumussalam” bunda bertanya kepada mamat,”mat, soko ngendi wae to nang, wes mari sholat po durung?”.(mat, darimana saja kamu, sudah sholat atau belum?).

”puniko mak kulo saking dalemipun yogo, kulo dereng sholat ashar”,(saya dari rumahnya yogo , saya belum sholat ashar) jawab mamat.

“yo kono sholat ashar ndang kono yen sholat jo koyo bis patas yo”.(sana sholat, kalau sholat jangan seperti bis patas ya)pinta ibu mamat.

Dengan rasa malu mamat menjawab,”kasinnggihan mak”.(ya bu).sudah menjadi kebiasaan anak desa seperti mamat sholat 5 waktu penuh walaupun cepat, laksana bis patas. ini merupakan point plus anak anak desa melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai anak yang beragama.

Kala mentari kembali ke pangkuannya dan lafal-lafal ilahi berkumandang mengisyaratkan kepada kaum beriman untuk melaksanakan kewajibannya yakni sholat maghrib di sambut oleh Mamat dengan keluar rumah sembari megucapkan salam untuk pergi ke surau dengan menenteng sarung yang dibuat mainan bak helikopter.

Tiba-tiba suaranya dengan keras ibunda menegur mamat “wooi arep nyang surau po arep angon bebek?”(mau ke surau atau mau gembala itik?)

Dengan cepat mamat mengenakan sarung yang ditentengnya.kemudian dengan wajah tersenyum malu merasa bersalah, mamat menatap ke arah ibunda tercinta dan lari menuju surau yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di surau dia langkahkan kaki menuju padasan(tempat untuk wudlu) untuk bersuci. Sapaan temen-temen sebaya mengajak mamat untuk menyegerakan ikut berjamaah di shaf 3 samapai 5, paling tepi karena merupakan pe-we posisi wenak untuk bersandar. Dengan gerak cepat dia memposisikan di paling tepi shaf ke 4. Dia jalankan perintah sholat maghrib tersebut sampai terucapnya salam dari imam yang berarti telah usainya sholat berjamaah. Berbeda dengan hari-hari biasa ketika bulan puasa kebiasaan-kebiasaan ganjil dilakukan anak-anak desa termasuk mamat dengan nongkrong dan menikmati bakwan(sejenis gorengan) di tempat penjualan bakwan di dapur milik mbah Yah. Mereka membawa uang dari sisa uang saku mereka di sekolah. Mereka menikmatinya langsung di tempat, biasanya setelah bakwan matang atau ditiriskan dari penggoreng anak-anak langsung berebut mendapatkan bakwan dengan harga @Rp.300,- tersebut. Mereka pergi ke tempat mbah yah setelah maghrib karena ngaji di mulai setelah tarawih.

Mamat menyudahi menikmati bakwan dengan membayar Rp1200,-kepada mbah Yah. Kemudian dikuti oleh teman-temannya kembali ke surau untuk melaksanakan sholat isya’. Warga berbondong-bondong ke surau untuk melaksanakan sholat isya’ berjamaah termasuk bunda mamat. Dengan melihat sekitar surau bunda mamat mencari anak semata wayangnya. Kemudian Tak selang berapa lama mamat menampakkan batang hidungnya, sembari menemui mamat dan menginterogasi sudah sholat maghrib atau belum.

Kumandang azan isya’ dan iqomah telah berkumandang warga yang berjamaah memposisikan diri dibelakang imam sebagai makmum. Di awali takbiratul ikhram, imam membaca ayatayat suci alqur’an melakukan rukun-rukun shalat dan lain sebagainya kemudian imam jamaaah mengakhiri nya dengan salam.dilanjutkan dengan sholat tarawih 21 rakaat. Usai sholat tarawih mamat membujuk ibunya memberikan ijin untuk tidur di surau bersama-sama teman-teman sebayanya. Dengan pendekataan yang begitu persuasive kepada ibunya akhirnya mamat mendapatkan ijin dari bundanya. Bunda mamat berjalan ke arah selatan untuk menuju rumahnya.

Bercanda bersama teman-teman celoteh ngalor ngidul tidak jelas arahnya sembari cekikak cekikik dari teman-teman mengundang teguran dari salah satu ustad. Mbah tsauban namanya beliau merupakan salah satu guru spiritual mamat. mamat banyak mendapat ilmu-ilmu baik dunia maupun akhirat dari sosok yang berwibawa dan bersahaja di kampung.

“hei-hei tinimbang do gak jelas, gojeg, ngomong banter ngganggu wong ngibadah mending darus”.(dari pada pada tidak jelas berisik,berbicara keras mengganggu orang beribadah lebih baik tadarus) tegur ustad. Seketika itu sunyi tak ada suara sekecilpun. Tanpa bekomentar satu per satu berderap melangkahkan kaki-kakinya ke almari al-qur’an untuk mengambil dan membacanya. Dan membuat kelompok regu tadarus anak-anak, anak remaja, orang tua tersendiri. Surau menjadi ramai berkumandang lantunan ayat-ayat suci dari mulut mulut warga desa. Waktu menunjuk angka 10, satu persatu warga kembali ke rumah masing-masing, tetapi tidak bagi mamat dan anak-anak kampong. Usai tadarus, belakang surau menjadi tempat favorit mereka untuk berlatih militer alias bermain polisi dan pencuri,anak-anak kampong biasa menyebutnya maling-malingan permainannya seperti petak umpet tetapi permainannya berkelompok. Satu regu menjadi polisi dan yang lain sebagai pencuri. Dan tugas polisi adalah menangkap pencuri. Para pencuri sebagian mencari tempat teraman bagi mereka, kuburan adalah salah satunya. Mamat bertugas sebagai polisi karena beliau termasuk anak penakut. Maka dia selalu mencari teman untuk menangkap si pencuri yang bersembunyi di tempat-tempat yang menyeramkan bagi dia.

Rasa lelah telah mereka rasakan dan waktunya untuk kembali ke surau. Usai bermain mereka masing-masing mencuci kaki kemudian masuk ke surau mencari posisi untuk tidur. Beralaskan tikar seadanya dan selimut dari sarung yang mereka kenakan. Mereka tidur lelap bagai tidur di atas spring bed berharga ratusan ribu. Mamat teringat akan peralatan tongtek yang di simpan di rumahnya yoga, kemudian dia berinisiatif untuk mengambilnya dengan yoga. Setibanya di rumah yoga, dengan mencari peralatan tersebut tanpa di bantu dengan alat penerangan. Tanpa sengaja mamat memegang ayam yang kebetulan bertempat disamping peralatan tongtek, sehingga ayam tersebut bersuara, “kokokk,,,kok,,kok” seketika mamat kaget.untungnya suara ayam tersebut tidak sampai ke telinga keluarga yoga. Mamat dan yoga memasukkan alat-alat tongtek tersebut ke dalam satu drum kemudian membawanya ke surau. Mereka bergabung dengan teman-teman yang berada di sudut surau.

Kokok ayam membangunkan tidur pulas mereka, sekitar jam 2 mamat dan teman-teman telah siap menjadi pahlawan untuk membangun warga untuk melaksanakan sahur. Masing-masing memegang instrument music ala kampong. Tabuhan kentongan dan drum mereka masuk ke rumah rumah warga sekitar dengan irama-irama dangdut dan pop yang mereka bisa. Prau layar, kucing garong, dan lagu-lagu ungu sering mereka bawakan di tongtek mereka. Tentu warga sekitar memandang berbeda pada kondisi seperti ini. Ketika lewat di depan rumah salah seorang warga, mamat dan teman-teman mendapat kan hadiah guyuran air darinya. Perasaan jengkel dan ingin membalas timbul dari masing masing individu tetapi mamat dan teman-teman masih ingat petuah yang di ajarkan oleh ustad ustad di surau. Situasi seperti itu terlewatkan oleh mamat begitu saja karena mamat yakin setiap pekerjaan baik pasti mempunyai resiko. ‘’Setiap orang yang menuju kebaikan pasti ada halangan atau rintangan’’.kata ustad. Dengan kata lain kesuksesan kita tergantung pada bagaimana kita dalam menghadapi halangan atau rintangan tersebut. Si mamat sang pahlawan saur tentunya berjiwa besar dalam mengahadpi hal tersebut. Rasa ikhlas yang ada dalam hati para pahlawan sahur tentunya mengubur rasa dendam. Hati mamat dan para pahlawan sahur telah terisi dengan karakter islami yang telah ditanamkan oleh ustad-ustad mereka. Dengan keadaan sebagian basah pada pakaian mereka, para pahlawan tetap melanjutkan misi mereka membangunkan warga untuk sahur. “sahur, sahur,sahur” diiringi suara kentongan dan drum dengan ritme yang lumayan bagus dalam lingkup desa, mereka ke kampung sebelah. Beberapa meter dari perempatan desa terdengar suara ibu tua sambil membawa kantong plastik berisi makanan ,”ki lho nang gawe sahur”(ini untuk sahur). Dengan segera mamat dan teman-teman menerimanya dengan berterima kasih kepada ibu.”Alhamdulillah,matur nuwun sanget bu!”(Alhamdulillah terima kasih banyak). Telah menjadi budaya pada anak anak kampong ini, minimal berterima kasih kepada siapapun yang memberi.

Waktu mendekati azan subuh, mamat dan teman-teman kembali kerumah masing-masing untuk sahur bersama keluarga.

“Assalamualaikum”, salam mamat kepada keluarga di rumah.

“waalaikumussalam”, jawab bunda mamat sembari membuka pintu rumah.

“cepet nang lek ndang sahur!”(cepetan sahur!), pinta bunda mamat.

Mamat menuju ke dapur yang sekaligus menjadi ruang makan keluarga. Mereka bersahur bersama, selasai sahur secara tidak sengaja ibu melihat baju mamat yang basah sebagian kemudian menanyakan kepada putra tercintanya,”kenek opo nang kok klambimu teles?”(kenapa bajumu basah?).

Dengan jujur dia menceritakan kejadian yang telah terjadi kepada ibundanya tanpa mengada-ada.

Kata kata bijak keluar dari bunda mamat,”gak opo-opo nang, seng penting kowe ikhlas lan ojo ono rasa mangkel yo!” (tidak apa-apa putraku, yang penting kamu ikhlas dan jangan ada rasa dendam ya!).

Kebijaksanaan yang telah dilakukan oleh bunda mamat merupakan tauladan yang baik dan patut untuk di contoh untuk para ibu-ibu pada umumnya, berlapang dada tidak selalu menjadikan anaknya yang selalu benar. Tentunya, putra-putri yang baik hampir semua dari orangtua –orang tua yang baik pula.

Dengan kesederhanaan dan kepuasan hati dalam menerima apa-apa yang Allah beri, mereka jalani kehidupan mereka dengan bahagia serta dapat memaknai kehidupan sebenarnya. Ilmu-ilmu yang mamat dapat dari bunda, ustad-ustadnya, dan lingkungan sekitarnya menjadikan pondasi diri mamat untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Jiwa-jiwa yang di dalamnya tertanam benih islami akan lebih bisa memaknai arti hidup.

Sekian terima kasih.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar